ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABAROKATUHU

Indahnya Pernikahan

Menikah adalah salah satu bagian dari pemenuhan fitrah manusia, dan ia adalah salah satu bentuk ibadah maka pelakunya berarti telah melaksanakan sunah. Menikah bukan hanya masalah cinta, suka, rindu, atau sekedar bahagia ketika bersama tapi menikah adalah salah satu upaya membentuk peradaban. Bukankah kokohnya akhlak diri kita mulanya berasal dari rumah tangga. Dan rumah tangga itu ada ketika terjadi sebuah pernikahan yang menyatukan dua orang manusia menjadi sebuah keluarga.

Menikah membuat seorang laki-laki belajar bagaimana menjadi sebaik-baik pemimpin untuk isteri dan anaknya, membuatnya rela berlelah-lelah mencari nafkah, membuatnya mau memastikan bahwa apa yang ia bawa pulang ke rumah adalah rizki yang halal, dan menjadikannya seorang lelaki teladan untuk anak-anaknya yang setiap saat melihatnya.

Menikah membuat seorang wanita belajar bagaiman menjadi sebaik-baik perhiasan dunia untuk suaminya, membuatnya belajar syukur dan sabar dalam keadaan lapang mapun sempit di setiap kehidupan yang dilaluinya, membuatnya memastikan bahwa anak-anak yang keluar dari rahimnya akan menjadi penyejuk mata dan pembawa kebaikan untuk umat, serta menjadikannya wanita luar biasa yang bahkan surga pun harus berada dibawah telapak kakinya.

Wahai engkau lelaki, maka sudah jadi tanggung jawabmu isteri dan anak-anakmu. Ketika agama dan akhlakmu baik maka Allah pun akan memampukan engkau dalam mendidik anak dan istreimu. Dan engkau duhai wanita, ketika baik agama dan akhlaqmu maka Allah pun akan menjadikanmu sebagai perhiasan terindah di dunia.

Perikahan adalah sebuah tarbiyah panjang yang seharusnya membuat kita yang belum menikah, belajar untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya dan menjadikan yang sudah menikah untuk terus berbenah agar bisa menghadirkan indahnya surga dalam setiap detik yang berlalu dalam keluarga kita.

Menikah adalah keindahan kecuali bagi yang menganggapnya sebagai beban. Rumah tangga adalah kemuliaan, kecuali bagi yang menganggapnya sebagai rutinitas tak bermakna.

Persimpangan Hidup

Bagi mukmin sejati, hidup adalah jalan menuju keabadian akhirat. Maka berjuang dan bekerja keras adalah harga yang harus dibayarkan guna mencapainya. Namun, ketahuilah sesungguhnya di setiap tempat dan waktu akan selalu ada persimpangan-persimpangan hidup yang memaksa kita untuk menentukan pilihan ; terus berada pada jalan menuju keabadian atau berbelok mencari jalan pintas. Jalan pintas yang mungkin lebih mulus, lebih cepat, lebih nikmat dan lebih menggiurkan namun sebenarnya cuma fatamorgana. Haruskah kita korbankan hidup guna mengejar fatamorgana?

Seorang pegawai rendahan mungkin dihadapkan pada persimpangan ; bergegas datang dipagi hari karena berpikir bekerja adalah amanah atau bermalas-malasan saja toh gaji tidak seberapa. Seorang pedagang mungkin dihadapkan pada persimpangan ; berlaku jujur dalam takaran atau mencurangi sedikit untuk memperbesar keuntungan. Seorang isteri mungkin dihadapkan pada persimpangan ; berterus terang pada suami dalam menyisihkan uang belanja untuk ibunya atau diam-diam saja. Seorang politikus mungkin dihadapkan pada persimpangan ; menerima uang sogokan untuk memperkaya diri dan kelompoknya atau menolaknya meski membawa konsekuensi diasingkan dan dilecehkan.

Bagi mukmin sejati, persimpangan hidup hanyalah seonggok batu ujian keimanan. Jika kita terpuruk kita akan berada pada posisi stagnan sampai ada kesempatan persimpangan lain yang membuat kita makin terpuruk atau berada pada derajat mulia. Wallohu'alam.Kita tidak tahu persis Allah memberi ujian yang sama pada hamba-Nya ; apakah setelah gagal dikali pertama, akan ada kesempatan kedua, ketiga, keempat atau bahkan tak ada sama sekali? yang jelas, jika kita melakukan dosa yang sama berkali-kali, maka setelah itu kita tidak akan lagi merasa berdosa saat melakukannya. Jika kita berhasi melewatinya maka akan makin menaikkan derajat kita. Tapi bisa jadi makin banyak persimpangan lain yang makin menikung yang harus kita hadapi. Sebab, sesuai dengan janji-Nya, Alloh akan menguji seseorang sesuai dengan tingkatannya ; makin tinggi tingkat keimanannya, makin berat ujiannya.

Bagi mukmin sejati, ujian bukanlah hal yang menakutkan, sebab ia telah memiliki kelengkapan untuk menghadapinya. Yaitu, kemampuan bersabar dan bersyukur sebagai buah dari keberhasilan dalam melewati ujian-ujian sebelumnya. Ya, bersabar dan bersyukur adalah perangkat penting dalam menghadapi ujian dengan berbagai bentuknya. Jika ujian ini berwujud sesuatu yang merujuk pada arti kesusahan, penderitaan, kesedihan, ketakutan dan sebagainya maka kunci sabar menjadi pelindung. Tapi jika ujian ini berwujud pada arti kesenangan, kepuasan, kenyamanan, dan sebagainya maka kunci syukur yang harus dipakai.

Sabar dan syukur memang amat diperlukan. Namun sayangnya, keduanya bukanlah anugrah yang datang begitu saja dari arsy Allah kedalam dada kita. Untuk menggapai itu semua kita harus melewati berbagai macam ujian yang datang sehingga sifat itu menjadi kokoh berdiri dalam diri kita. Semoga Allah senantiasa menjadikan kita sebagai umat yang terpilih untuk mendapatkan sifat sabar dan syukur. Amin... 

Hari Pertama, Pelayan Maksimal

Pada hari kamis tanggal 23 Agustus 2012 KUA Kec. Kutawaringin Kab. Bandung mulai melakukan aktivitas pelayanan lagi bagi masyarakat sekitar. Pada hari pertama kerja itu diisi dengan kegiatan halal bi halal bersama masyarakat sekitar kantor yang dilakukan oleh seluruh pegawai KUA Kec. Kutawaringin. Kehadiran karyawan pun sudah mencapai 90 %, itu menunjukkan kedisiplinan karyawan KUA Kec. Kutawaringin cukup baik.

Seperti biasanya pelayanan kantor dimulai pada pukul 07.30 sampai dengan pukul 16.00. meskipun hari pertama kerja tapi pelayanan terhadap masyarakat telah dilaksanakan secara maksimal. Tak ada keluhan dari masyarakat soal pelayanan, bahkan mendapat pujian. Pelayanan nikah dan pemberian surat pengantar kehendak nikah menjadi pelayanan utama selain pelayanan pemberian akta ikrar wakaf, zakat, kemasjidan, ibadah sosial dan lain-lain.

Semoga KUA Kec. Kutawaringin Kab. Bandung selalu bisa menjadi lebih baik dan menjadi kua teladan.