ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABAROKATUHU

Dasar Hukum Pernikahan

Nikah adalah suatu akad yang menghalalkan pergaulan antara seorang laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim sehingga menimbulkan hak dan kewajiban diantara keduanya. Dalam pengertian yang lebih luas pernikahan merupakan suatu ikatan lahir batin antara dua orang, laki-laki dan perempuan untuk hidup bersama dalam suatu rumah tangga dan keturunan yang dilangsungkan menurut ketentuan syari'at Islam.

Pernikahan adalah suatu perbuatan yang dianjurkan oleh syara sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nur ayat 32 : "Dan kawinilah orang-orang yang sendirian diantara kamu dari hamba sahaya laki-laki dan perempuan yang patut ...... ". Dan Rosulullah pun memerintahkan kepada setiap pemuda yang telah cukup untuk segera menikah karena dengan menikah itu akan lebih kuasa untuk menahan mata dan hasrat namun apabila tidak tidak kuasa maka hendaklah berpuasa karena itu akan menjadi penjaga baginya.

Pada dasarnya hukum menikah itu adalah jaiz (boleh) namun karena berbagai situasi dan kondisi hukum menikah terbagi menjadi 4 macam, yaitu :

1. Wajib
Menikah hukumnya wajib bagi yang sudah mampu, nafsunya sudah mendesak dan takut terjerumus pada perzinahan, serta sudah punya calon untuk dinikahi. Ia wajib untuk menikah, karena menjauhkan diri dari hal yang haram adalah wajib. Nabi bersabda ;
" Barang siapa mempunyai kesanggupan untuk beristeri, tetapi ia tidak mau beristeri, maka bukanlah ia termasuk golonganku" (HR. Thabrani)
   
2. Sunah
Adapun bagi orang-orang yang nafsunya telah mendesak dan mampu menikah tetapi masih mampu menahan dirinya dari berbuat zina, hukum menikah baginya adalah sunah. Nikah baginya lebih utama. Baihaqi meriwayatkan hadist dari Abu Umamah bahwa Nabi SAW pernah bersabda ;
" Nikahlah kalian, karena aku bangga dengan banyaknya jumlah kalian dibandingkan umat-umat lain. Dan janganlah kalian seperti pendeta-pendeta Nasrani".

3. Haram
Bagi seseorang yang yakin tidak akan mampu memenuhi nafkah lahir dan batin pasangannya, atau kalau menikah akan membahayakan pasangannya, dan nafsunya pun masih isa dikendalikan, maka hukumnya haram untuk menikah. 
Qurthubi berkata ;" Bila seorang laki-laki sadar tidak mampu membelanjai istrinya, atau tida mampu membayar maharnya, atau memenuhi hak-hak isterinya, maka ia haram menikah, sebelum ia dengan terus terang menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Begitu pun kalau ia karena dengan suatu hal manjadi lemah, tak mampu menggauli isterinya, maka wajiblah ia menerangkan dengan terus terang agar calon isteri tidak tertipu olehnya.

Demikian pula sebaliknya, bagi perempuan, bila ia sadar dirinya tidak mampu memenuhi ha suaminya, atau ada hal-hal yang menyebabkan ia tidak mampu memenuhi kebutuhan batin suaminya, seperti karena penyakit, maka ia wajib menerangkan semua itu kepada calon suaminya. Intinya pernikahan menjadi haram apabila ada unsur penipuan dalam pernikahan tersebut.

4. Makruh 
Bagi seseorang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan lahir dan batin isterinya, namun isterinya mau menerima kenyataan tersebut, maka hukum pernikahannya adalah makruh.

Indahnya Pernikahan

Menikah adalah salah satu bagian dari pemenuhan fitrah manusia, dan ia adalah salah satu bentuk ibadah maka pelakunya berarti telah melaksanakan sunah. Menikah bukan hanya masalah cinta, suka, rindu, atau sekedar bahagia ketika bersama tapi menikah adalah salah satu upaya membentuk peradaban. Bukankah kokohnya akhlak diri kita mulanya berasal dari rumah tangga. Dan rumah tangga itu ada ketika terjadi sebuah pernikahan yang menyatukan dua orang manusia menjadi sebuah keluarga.

Menikah membuat seorang laki-laki belajar bagaimana menjadi sebaik-baik pemimpin untuk isteri dan anaknya, membuatnya rela berlelah-lelah mencari nafkah, membuatnya mau memastikan bahwa apa yang ia bawa pulang ke rumah adalah rizki yang halal, dan menjadikannya seorang lelaki teladan untuk anak-anaknya yang setiap saat melihatnya.

Menikah membuat seorang wanita belajar bagaiman menjadi sebaik-baik perhiasan dunia untuk suaminya, membuatnya belajar syukur dan sabar dalam keadaan lapang mapun sempit di setiap kehidupan yang dilaluinya, membuatnya memastikan bahwa anak-anak yang keluar dari rahimnya akan menjadi penyejuk mata dan pembawa kebaikan untuk umat, serta menjadikannya wanita luar biasa yang bahkan surga pun harus berada dibawah telapak kakinya.

Wahai engkau lelaki, maka sudah jadi tanggung jawabmu isteri dan anak-anakmu. Ketika agama dan akhlakmu baik maka Allah pun akan memampukan engkau dalam mendidik anak dan istreimu. Dan engkau duhai wanita, ketika baik agama dan akhlaqmu maka Allah pun akan menjadikanmu sebagai perhiasan terindah di dunia.

Perikahan adalah sebuah tarbiyah panjang yang seharusnya membuat kita yang belum menikah, belajar untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya dan menjadikan yang sudah menikah untuk terus berbenah agar bisa menghadirkan indahnya surga dalam setiap detik yang berlalu dalam keluarga kita.

Menikah adalah keindahan kecuali bagi yang menganggapnya sebagai beban. Rumah tangga adalah kemuliaan, kecuali bagi yang menganggapnya sebagai rutinitas tak bermakna.

Persimpangan Hidup

Bagi mukmin sejati, hidup adalah jalan menuju keabadian akhirat. Maka berjuang dan bekerja keras adalah harga yang harus dibayarkan guna mencapainya. Namun, ketahuilah sesungguhnya di setiap tempat dan waktu akan selalu ada persimpangan-persimpangan hidup yang memaksa kita untuk menentukan pilihan ; terus berada pada jalan menuju keabadian atau berbelok mencari jalan pintas. Jalan pintas yang mungkin lebih mulus, lebih cepat, lebih nikmat dan lebih menggiurkan namun sebenarnya cuma fatamorgana. Haruskah kita korbankan hidup guna mengejar fatamorgana?

Seorang pegawai rendahan mungkin dihadapkan pada persimpangan ; bergegas datang dipagi hari karena berpikir bekerja adalah amanah atau bermalas-malasan saja toh gaji tidak seberapa. Seorang pedagang mungkin dihadapkan pada persimpangan ; berlaku jujur dalam takaran atau mencurangi sedikit untuk memperbesar keuntungan. Seorang isteri mungkin dihadapkan pada persimpangan ; berterus terang pada suami dalam menyisihkan uang belanja untuk ibunya atau diam-diam saja. Seorang politikus mungkin dihadapkan pada persimpangan ; menerima uang sogokan untuk memperkaya diri dan kelompoknya atau menolaknya meski membawa konsekuensi diasingkan dan dilecehkan.

Bagi mukmin sejati, persimpangan hidup hanyalah seonggok batu ujian keimanan. Jika kita terpuruk kita akan berada pada posisi stagnan sampai ada kesempatan persimpangan lain yang membuat kita makin terpuruk atau berada pada derajat mulia. Wallohu'alam.Kita tidak tahu persis Allah memberi ujian yang sama pada hamba-Nya ; apakah setelah gagal dikali pertama, akan ada kesempatan kedua, ketiga, keempat atau bahkan tak ada sama sekali? yang jelas, jika kita melakukan dosa yang sama berkali-kali, maka setelah itu kita tidak akan lagi merasa berdosa saat melakukannya. Jika kita berhasi melewatinya maka akan makin menaikkan derajat kita. Tapi bisa jadi makin banyak persimpangan lain yang makin menikung yang harus kita hadapi. Sebab, sesuai dengan janji-Nya, Alloh akan menguji seseorang sesuai dengan tingkatannya ; makin tinggi tingkat keimanannya, makin berat ujiannya.

Bagi mukmin sejati, ujian bukanlah hal yang menakutkan, sebab ia telah memiliki kelengkapan untuk menghadapinya. Yaitu, kemampuan bersabar dan bersyukur sebagai buah dari keberhasilan dalam melewati ujian-ujian sebelumnya. Ya, bersabar dan bersyukur adalah perangkat penting dalam menghadapi ujian dengan berbagai bentuknya. Jika ujian ini berwujud sesuatu yang merujuk pada arti kesusahan, penderitaan, kesedihan, ketakutan dan sebagainya maka kunci sabar menjadi pelindung. Tapi jika ujian ini berwujud pada arti kesenangan, kepuasan, kenyamanan, dan sebagainya maka kunci syukur yang harus dipakai.

Sabar dan syukur memang amat diperlukan. Namun sayangnya, keduanya bukanlah anugrah yang datang begitu saja dari arsy Allah kedalam dada kita. Untuk menggapai itu semua kita harus melewati berbagai macam ujian yang datang sehingga sifat itu menjadi kokoh berdiri dalam diri kita. Semoga Allah senantiasa menjadikan kita sebagai umat yang terpilih untuk mendapatkan sifat sabar dan syukur. Amin...